.

Warga Distrik Jayapura Utara Belum Menerima Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP)

IMBI (KOTA JAYAPURA) – Sejumlah warga yang bermukim disekitar wilayah Distrik Jayapura Utara (Japut), Papua, mengeluhkan pengiriman kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP). Mereka mengaku, mengeluh karena pengirimannya memakan waktu berbulan-bulan bahkan tahun.

Lantaran demikian, sebagian dari mereka yang melakukan perekaman perdana sejak awal penerapan e-KTP, hingga kini belum mendapat kartu tanda penduduk tersebut. Demikian disampaikan Friki Mara, warga kelurahan Imbi, Distrik Jayapura Utara kepada wartawan di Jayapura, Rabu (29/05/2013).

Menurut Friki, kebanyakan dari mereka mempertanyakan pengiriman yang memakan waktu berbulan-bulan. “Kami mau tanya, kapan kami dapat e-KTP, sudah lima bulan, kami tunggu-tunggu tapi belum ada juga di Kantor Distrik. Padahal, kebanyakan melakukan perekaman perdana pada tahun lalu,” ujarnya.

Lanjut dia, tak hanya bulan, sebagian warga diantaranya sudah menunggu hampir setahun namun kartu indentitas dirinya tak kunjung tiba. “Pengiriman kartu ini terlalu makan waktu lama sekali. Kami jenuh sekali menunggu,” ungkapnya. Ia menuturkan, anehnya, sebagian warga yang baru melakukan perekaman, sudah mendapat e-KTP. Sementara, mereka (warga) yang lebih dahulu melakukan perekaman, sampai saat ini belum mendapat kartu penduduk ini. “Aneh, mereka yang baru lakukan perekaman, sudah lebih duluan dapat. Tapi, yang sudah lama lakukan perekaman, sampai sekarang belum dapat,” keluhnya.  Dia menambahkan, karena menunggu pengiriman yang terlalu lama, maka masyarakat ingin menanyakan sekaligus meminta kejelasan Distrik terkait pengiriman. “Kami ingin kejelasan dari Distrik soal pengiriman yang terlalu memakan waktu lama ini,” tuturnya.

Kepala Distrik Jayapura Utara, Adam S. Rumbiak mengatakan, pengiriman e-KTP dari Jakarta, kadang tak serempak satu kali berdasarkan jumlah data perekaman yang dikirim dari masing-masing Distrik ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Jayapura kemudian dilanjutkan ke Jakarta.

Terkadang, kata Adam, sebagaian dikirim terlebih dahulu dari Jakarta, namun jumlahnya sedikit. Kebanyakan, tidak sesuai dengan jumlah data indentitas warga yang dikirim ke Jakarta. “Kadang, kalau mereka kirim dua karton, jumlahnya tidak seimbang. Kebanyakan, karton sedang itu yang isinya padat dibanding karton besar. Karton besar itu mungkin isinya cuma seratus saja didalam,” kata Adam.

Menurut Adam, selain itu, percetakannya tak sesuai dengan data yang diajukan. Akhirnya, warga yang sudah terlebih dahulu melakukan perekaman dan dikirim terlebih dahulu, harus menunggu lama. “Ini yang membuat pengiriman kartu ini lama tiba dan dikasih ke masyarakat yang melakukan perekaman,” katanya lagi.

Dia menambahkan, kendala lain yang membuat pengiriman dan perolehannya lama adalah salah cetak, lainnya lagi tidak jelas. Percetakan yang salah misalnya, nama diisi pekerjaan, pekerjaan diisi nama, sehingga dikembalikan untuk cetak ulang. “Hal lain yang membuat lama adalah kebanyakan yang dicetak itu salah. Identitasnya tidak sesuai akhirnya dikembalikan lagi untuk cetak ulang. Dengan begitu, akhirnya pengirimannya tambah lama,” tuturnya. [TabloidJubi]
Bagikan ke Google Plus

0 comments:

Post a Comment